“Tengoklah indahnya negeri ini,
kebesaran yang kita miliki,
tanah air yang indah dan permai,
bersama patut kita syukuri..”

***

Tulisan ini saya awali dengan mengutip penggalan lirik lagu yang berjudul “Kawan” dari album “Rinduku Padamu”, yang dilaunching pada tahun 2007 silam oleh Bapak Bangsa yang pernah memimpin negeri tercinta ini, Bapak SBY. Jika saya boleh menafsirkan, penggalan sajak indah di balik lagu ini sesungguhnya memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu bahwa betapa kaya, subur, luas dan indahnya Nusantara yang kemudian menumbuhkan rasa bangga dan bersyukur sebagai bagian darinya.

Ya, Nusantara. Negeri kepulauan yang membentang dari Sabang sampai ke Merauke di Papua, dari Miangas sampai ke pulau Rote di Nusa Tenggara sana. Nusantara, sebutan bagi negeri Indonesia, negeri eksotik dengan keanekaragaman hayati, panorama alam, flora-fauna, budaya, bahasa, aneka ragam suku, adat-istiadat, dan masih banyak lainnya yang terhampar di jajaran ribuan pulaunya.

Melihat kebesaran dan keragaman Nusantara yang sebegitu hebatnya, terkadang saya merasa miris mendengar celoteh negatif para manusia yang bertebaran di media sosial, yang dengan gampangnya mereka mencela dan merasa muak terhadap kondisi negeri ini. Mungkin sebagian mereka menilai bangsa kita adalah bangsa yang gagal dengan melihat berbagai permasalahan yang dihadapi saat ini. Apalagi setelah setiap hari disuguhi berita-berita yang penuh dengan keprihatinan, seperti berita korupsi yang seakan tak pernah berhenti, kemiskinan yang tak kunjung bisa dientaskan, akses pendidikan yang belum merata, dagelan politik yang sering bikin kita tergelitik, sampai dengan musibah yang datang silih berganti. Namun bagaimanapun keadaannya, hendaknya saya, Anda, dan mereka seluruh warga Indonesia harus tetap bersyukur karena hidup di bumi Nusantara tercinta ini.

Dan berkenaan dengan bersyukur, saya jadi teringat sebuah hadits yang dulu saya hafalkan di awal saya menimba ilmu di kota Malang tahun 1999 silam. Bahwa Baginda Rasulullah pernah bersabda, “Undzuruu ilaa man huwa asfala minkum wa laa tandzuruu ilaa man huwa fauqakum, fahuwa ajdaru an laa tazdaruu ni’matallaahi ‘alaikum; pandanglah orang yang berada di bawahmu dan janganlah engkau memandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah dunia). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Oleh karenanya, kalaulah kebesaran dan keragaman Nusantara yang sebegitu hebatnya tadi tak bisa menumbuhkan rasa syukur, coba tengoklah ke ‘bawah’, tengoklah negeri-negeri di Timur Tengah sana, betapa menderitanya mereka karena perpecahan, peperangan, dan konflik yang berkepanjangan. Sementara kondisi di negeri kita aman tentram, hidup rukun, damai, berdampingan dengan segala perbedaan yang ada.

Kita tentu masih ingat pelajaran sejarah tentang Perang Teluk II di tahun 1990-1991, yang mengakibatkan lebih dari 25.000 warga Irak menjadi korban. Terlebih setelah PBB menjatuhkan embargo kepada negeri itu, yang mengakibatkan kekurangan obat-obatan dan makanan, sehingga menyebabkan kematian, terutama anak-anak. Di kala ribuan anak di Irak meninggal dunia karena embargo, di Indonesia justru angka kematian bayi menurun dari 142 per 1.000 kelahiran hidup di tahun 1970 menjadi 63 per 1.000 kelahiran hidup di tahun 1990. Dan saya di tahun itu masih bisa menikmati masa kecil dengan segala macam kebahagiaannya, pagi hari mengenyam bangku Sekolah Dasar, sore hari belajar di madrasah, dan sehabis maghrib mengaji pada pak kyai di langgar dekat rumah. Saya dan anak-anak Indonesia lainnya kala itu juga masih sempat bermain gobag sodor, petak umpet, hingga jamuran.

Sepuluh tahun sesudahnya, tengoklah bagaimana kehidupan warga Gaza di Palestina dengan Intifada al-Aqsa-nya terhadap Israel. Korban tewas sepanjang konflik 2000-2007 diperkirakan 4.219 rakyat Palestina dan 1.024 rakyat Israel. Sementara warga Palestina berjuang membebaskan diri dari penjajahan Israel dengan segala penderitaannya, di Indonesia pada kurun 2000-2007 terus melaksanakan pembangunan di segala bidang, khususnya ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kurun waktu itu rata-rata sekitar 5,04 persen per tahun. Dan di kurun waktu itu, saya masih bisa menikmati nikmatnya hidup di bilik pesantren di kota Malang, dengan sesekali menyaksikan kesenian banthengan dan segala macam budayanya, tentu masih diiringi dengan rasa keprihatinan terhadap saudara-saudara Muslim kita di Gaza sana. Saya juga masih bisa menikmati angsle, minuman khas kota Malang yang isinya roti, kacang tanah, kacang hijau rebus, putu mayang, bubur mutiara, ketan putih kukus, dan tape singkong.

Selanjutnya, tengoklah berita tentang perang Libanon di tahun 2006 dengan 1000 an korban jiwa warga Libanon dan 4000 an luka-luka. Juga tengoklah krisis Suriah yang sejak tahun 2011 silam sampai sekarang yang telah memakan korban jiwa 60.000-an warga Suriah, 400 ribuan orang hidup di pengungsian, dan lebih dari sejuta orang terlantar. Jangan lupa juga dengan konflik di Mesir yang di tahun 2013 lalu merenggut lebih dari 600-an korban jiwa dan 4000 an luka-luka. Dan yang terbaru, tengoklah krisis Yaman yang tahun lalu telah menimbulkan korban jiwa 1.950 warga sipil tewas dan 4.271 cedera, sejuta orang mengungsi, ratusan ribu anak terlantar dan kurang gizi.

Bagaimana dengan Indonesia? Di saat negeri-negeri tersebut dilanda konflik yang berkepanjangan, NKRI masih menunjukkan eksistensinya sebagai negeri yang rukun dan damai. Kita masih bisa merasakan betapa indahnya persatuan dan kesatuan di atas perbedaan. Saya masih bisa melihat betapa indahnya keragaman tradisi dan budaya di tempat tinggal saya sekarang, kota Prambanan, untuk sekedar melihat kesenian jathilan ataupun sendra tari Ramayana, menikmati nasi gudheg khas Yogya, sego wiwit, ataupun sekedar duduk-duduk di angkringan sambil menikmati wedang uwuh-nya, minuman tradisional Yogya yang dibuat dari bahan-bahan berupa dedaunan mirip dengan sampah, namun beraroma harum, dan tentu banyak khasiatnya. Menengok dan merasakan itu semua, masihkah kita enggan bersyukur atas nikmat Tuhan berupa Nusantara? Jawablah dengan hati nurani yang terdalam.

Akhirnya, marilah kita mensyukuri berbagai kelebihan Nusantara, setidaknya dengan melestarikan kebudayaannya, menjaga kelestarian wilayahnya, dan yang terpenting adalah menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, kemudian berusaha berbenah bersama-sama atas kekurangan yang ada. Sekian puluh tahun kita sudah diberi makan oleh Tuhan dari kekayaan bangsa ini, sudah diberi minum dari tanah air bangsa ini, sudah diberi tempat tinggal di tanah ini, serta diberi pendidikan sampai setinggi ini, tak ada yang bisa kita katakan selain, “Terimakasih Tuhan, atas nikmat Nusantara…”