Sungguh, saya tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi kalian; tercengang, takjub, atau justru biasa saja, ketika menyaksikan pertumbuhan pengguna internet di Indonesia. Meminjam judul lagunya Harvey Malaiholo yang dirilis tahun 1985 silam, saya sendiri agak ‘terpana’ saat melihat hasil survey dari APJII (Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia) yang memaparkan data bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia pada tahun lalu meningkat tajam sekitar 51,8 persen jika dibandingkan dari dua tahun sebelumnya.

Jika pengguna internet di Indonesia pada tahun 2014 silam masih di kisaran 88 juta pengguna, maka pada tahun 2016 kemarin mencapai angka 132,7 juta orang! Jumlah yang sangat luar biasa tentunya. Iya kan? Dan itu artinya, lebih dari setengah penduduk Indonesia kini telah berkenalan dengan makhluk yang bernama internet. Mengingat jumlah penduduk negara tercinta kita ini pada tahun lalu sekitar 256,2 juta orang.

Internet sebagai Bagian dari Gaya Hidup

Memang tak bisa dipungkiri ya, saat ini internet telah menjadi satu hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kini, tak hanya kalangan remaja seperti saya (dilarang protes! hehee..), sebagian besar anak-anak dan orang tua juga telah berteman akrab dengan internet. Entah penggunaannya sebagai sarana mencari informasi, sarana bisnis, ataupun sekedar berjejaring sosial.

Ya, kini internet memang telah menjadi bagian dari gaya hidup! Terlebih sejak hadirnya jaringan 4G LTE yang memungkinkan kita untuk mengakses data dengan kecepatan yang tinggi. Sehingga tak jarang, banyak sekali di antara kita yang cinta mati dan seolah tak bisa hidup tanpa terhubung dengan internet. Hmm, andai internet bisa bernyanyi, mungkin pas sekali kalau kita duet dengannya untuk menyanyikan lagunya Cak Diqin feat Safitri, “Cinta kita tak terpisahkan, walau di akhir jaman..

Ayo, mengakulah! Saat bangun tidur, hal apa yang pertama kali kamu lakukan? Buka HP kan? Jujurlah padaku, sebelum Radja menyanyikannya! Hehehe… Padahal sejatinya, internet yang merupakan bagian dari arus globalisasi ini ibarat pisau bermata dua loh. Ada dampak positif dan negatifnya, ada berkah dan musibahnya.

Menimbang Berkah dan Musibah Internet

Kita tentu sepakat ya, bahwa internet memang bisa menjadi berkah bagi penggunanya. Ya, menjadi berkah karena dampak positif keberadaannya sangatlah membantu kehidupan manusia. Banyak sekali manfaat internet yang bisa kita rasakan. Mulai dari kecepatan informasi yang up to date, kemudahan akses komunikasi dengan siapapun, hingga sebagai ajang promosi bisnis yang menjanjikan.

Tak hanya itu, internet juga sukses menghimpun keluarga, sanak saudara, dan kerabat yang tersebar di berbagai daerah. Buktinya, banyak sekali kan kita saksikan kisah-kisah dramatis bertemunya kembali keluarga atau kerabat yang jauh dan sudah lama tidak bertemu yang berawal dari internet? Akhirnya, dengan kekuatan internet, mereka pun bisa menyanyikan lagunya Rhoma Irama, “Pertemuan yang kuimpikan kini jadi kenyataan, pertemuan yang kudambakan ternyata bukan khayalan..”

Begitulah dahsyatnya internet. Bahkan di beberapa momentum, kekuatan internet jugalah yang membuat masyarakat Indonesia menjadi lebih peduli terhadap berbagai permasalahan sosial yang ada. Sebagai contoh, adalah adanya berbagai penggalangan dana sosial yang memanfaatkan media internet. Mulai dari gerakan koin peduli, gerakan Peduli ASI, Gerakan Peduli Down Syndrome, hingga Gerakan Peduli Korban Bencana Alam.

Itu hanya sebagian kecil gerakan-gerakan peduli sosial yang ada, masih banyak lainnya. Sebagaimana yang terbaru adalah Gerakan Peduli Sosial untuk Miftah, korban pohon tumbang di Depok beberapa waktu yang lalu. Bukankah itu semua berkah dari keberadaan internet yang akan membuat hidup kita semakin indah? Seperti kata Wali Band, “hidup indah bila mencari berkah..”

Eh tapi, ada satu hal yang harus kita ingat loh, Sob! Di balik keberkahan internet itu ternyata juga tersembunyi dampak negatif yang sedemikian besar. Kalau kata Mbak Iis Dahlia dalam lagu ‘Payung Hitam’ miliknya sih, “bagai bencana datang melanda..” gitu..

Munculnya berbagai tindak kejahatan, mulai dari penculikan, penipuan hingga tindak kriminal lainnya tak jarang juga bermula dari internet. Iya kan? Dan yang tak kalah memprihatinkan adalah kian maraknya berita-berita hoax bertebaran di internet yang memojokkan satu kelompok tertentu di tengah keberagaman dan kemajemukan masyarakat Indonesia.

Ketika masuk ke pojok ruang internet, entah itu saat berjejaring sosial maupun saat mengunjungi berbagai website dan blog, tak jarang kan kita menemukan pengguna medsos maupun pemilik website yang saling menebar kebencian satu satu sama lain? Banyak juga pernyataan-pernyataan yang menyudutkan satu kelompok tertentu oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Padahal, tentu saja hal ini bisa mengarah pada perpecahan, bahkan mengancam eksistensi keberagaman bangsa. Tentu amat disayangkan ya?

Keberagaman adalah Anugerah yang Harus Disyukuri

Oh ya, berbicara tentang keberagaman, saya jadi ingat sebuah kata bijak yang pernah ditulis oleh Bapak Pluralisme, Gusdur. “Keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.” Begitulah katanya. Dan menurut saya, kata bijak tersebut memang benar adanya. Karena didasari sebuah kenyataan dan pemahaman bahwa bumi tempat kita tinggal ini, dihuni oleh manusia dengan berbagai keberagaman. Mulai dari suku, ras, bahasa, profesi, budaya, hingga agama. Nah, hal tersebut menunjukkan bahwa keberagaman itu merupakan anugerah Tuhan yang harus kita syukuri.

Kalau kita tahu, di dunia modern saat ini, hampir tidak ada satu pun negara yang masyarakatnya seragam, tanpa sebuah keberagaman. Satu contoh saja, dalam hal agama. Tentu akan terasa sulit sekali kita menemukan ada negara yang benar-benar memiliki warga negara yang memeluk satu agama. Kalaupun ada, pasti juga terdapat keberagaman yang muncul dari interpretasi alias penafsiran teks-teks kitab suci agama tersebut. Sehingga, lahirlah yang namanya madzhab, sekte, ataupun aliran-aliran agama.

Di negara kita sendiri, kita dapat menyaksikan banyak keberagaman. Mulai dari suku, ras, bahasa, budaya, dan agama dengan berbagai alirannya. Kalau kata Bang Haji dalam lagunya, “Walaupun bermacam-macam aliran, tetapi satu tujuan..” Sehingga, keberagaman ini tentu bukan untuk dijadikan sebagai alasan perpecahan. Iya kan?

Justru sebaliknya, keberagaman ini mesti kita jaga sebagai kekuatan sekaligus modal kekayaan untuk membangun bangsa. Ketika kita menjadi bagian dari Indonesia, berarti kita harus siap dan sanggup hidup berdampingan dalam keberagaman.

Menjadikan Internet Sebagai Berkah dalam Keberagaman

Lantas, bagaimana menjadikan internet sebagai berkah dalam keberagaman? Jawabnya cuma satu, yaitu dengan mengedepankan sikap toleran. Toleran yang berasal dari bahasa Latin, “tolerare” artinya adalah dengan sabar membiarkan sesuatu. Ya, sikap toleran berarti menahan diri, bersikap sabar, membiarkan orang lain berbeda pendapat, serta berhati lapang terhadapnya, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Memang sih, membangun sikap toleran di tengah perkembangan internet yang sedemikian pesatnya ini tidaklah mudah. Namun bagaimana pun susahnya, tetap harus diupayakan kan? Tentu diawali dari lingkup terkecil, yaitu diri sendiri.  Caranya, tak lain adalah dengan selalu menjunjung tinggi tatakrama saat bersosialiasi dengan media internet.

Di antara tatakrama yang saya lakukan ketika menggunakan internet adalah: pertama, dalam bersosialisasi di internet, saya selalu berusaha untuk menggunakan bahasa sosial yang baik, tanpa menebar kebencian, dan menyinggung hal-hal yang mengarah kepada sara. Kedua, layaknya di dunia nyata, di dunia maya pun saya selalu berusaha untuk menghargai orang lain sebagaimana menghargai diri sendiri. Dan ketiga, sebisa mungkin saya meneliti terlebih dahulu segala sesuatu yang akan saya share, tentang benar tidaknya serta baik buruknya berita tersebut.

Satu lagi yang tak kalah penting, adalah berupaya semaksimal mungkin untuk menyibukkan diri dengan cara mengambil manfaat dari internet. Sehingga saya tak punya cukup waktu untuk bersinggungan dengan dampak negatif yang ditimbulkanya. Caranya, bisa dengan berbagi inspirasi, motivasi, ataupun informasi di blog pribadi. Atau sebaliknya, kita bisa membaca kisah-kisah inspirasi, motivasi serta informasi dari teman-teman blogger.

Sebagaimana semboyan negara kita yang “Bhinneka Tunggal Ika”, dalam dunia blog juga berlaku semboyan “bermacam-macam niche, tetapi tetap satu jua”. Dari blog tekno, saya bisa update info gadget terkini. Dari blog kesehatan, saya bisa tahu info kesehatan. Dan dari blognya emak-emak, saya juga bisa mendapatkan berbagai info cara mengasuh anak yang baik dan benar. Bukankah ini adalah berkah dari internet dalam keberagaman?

Kalau pun pada saat-saat tertentu, cara-cara itu tidak bisa saya lakukan, ya lebih baik download ataupun streaming lagu-lagu dari pada menebar hoax. Iya kan? Lagu-lagu di internet itu juga sangat beragam dan lengkap. Mulai lagu jazz seperti lagunya Harvey Malaiholo, lagu pop seperti lagunya Radja dan Wali Band, hingga dangdut seperti lagunya Iis Dahlia dan Rhoma Irama. Bahkan lagu-lagu campur sari yang berirama dangdut seperti lagunya Cak Diqin juga ada. Dengan jaringan internet 4G LTE, download dan streaming dijamin cepat was wus was wus..

Intinya, kalau kita bisa menjadikan internet sebagai sebuah berkah yang membawa manfaat, kenapa harus menjadikannya sebagai musibah? Amat disayangkan kalau jaringan 4G LTE yang super cepat justru menjadi musibah dalam keberagaman. Iya kan? Oh iya, 4G LTE-mu, menjadi berkah atau musibah dalam keberagaman?